Komandan Program RIMUP SR Daerah Kluang 2012
Top Menu
Didikan Rohani Dengan Ibadah.
عن عمرو بن شُعَيْبٍ عن أَبِيهِ عن جَدِّهِ قَالَ، قَالَ رسولُ الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : مُرُوا أَوْلاَدَكُمْ بِالصَّلاَةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْع سِنِينَ وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءَ عَشْرِ سِنِينَ، وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِي المَضَاجِعِ.[4] Yang bermaksud, Daripada ‘Amru bin Syu‘aib, daripada bapanya, daripada datuknya berkata, sabda Rasulullah saw: “Perintahlah anak-anakmu mendirikan solat ketika mereka berumur tujuh tahun dan pukullah mereka jika meninggalkannya ketika berumur sepuluh tahun serta pisahkan tempat tidur mereka.
Perkhidmatan
Tips Berkaitan Peperiksaan
- Teknik DETER
- Doa
- Mengurus Masa
- Sebulan Sebelum Pepeiksaan
- Seminggu Menjelang Peperiksaan
- Malam Sebelum Peperiksaan
- Pagi Peperiksaan
- Apabila Soalan Telah Di Beri
- Apabila Masa Menjawab Telah Bermula
- Apabila Masa Menjawab Telah Tamat
- Tips Menjawab Soalan Objektif
- Kesilapan Yang Tidak Disedarai Ketika Menjawab
- Tips Ketika Di Dalam Dewan Peperiksaan
- Strategi Mungulangkaji Di Hari Peperiksaan
- Rahsia Kejayaan Calon PMR Yang Lalu
- Tips Menjawab Di Bulan Ramadan
Pengiktirafan Majalah Pendidik kepada Blog Aspirasi Diri
08 November 2012
04 November 2012
aspirasidiri : Agama adalah Nasihat dalam Hadis 40 Imam An Nawawi : Perkongsian Artikel
Alhamdulillahi wa sholatu wa salamu ‘ala Nabiyina Muhammad wa ‘ala ashaabihi wa man tamassaka bi sunnatihi ‘ila yaumddin.
Di dalam kitab Arbai’n An Nawawiyah, Imam An Nawawi rahimahullahu
membawakan sebuah hadits yang agung, yang beliau tempatkan hadits ini
pada urutan ketujuh pada kitab beliau tersebut. Yaitu hadits dari
shahabat Abu Ruqaiyah Tamiim bin Aus Ad Dariy radhiyallahu’anhu, Rasulullah shalallahu’alaihi wa salam telah bersabda :
« الدِّينُ النَّصِيحَةُ » قُلْنَا لِمَنْ قَالَ « لِلَّهِ
وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُولِهِ وَلأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ وَعَامَّتِهِمْ
».
“Agama adalah nasehat. Kemudian kami (para shahabat)
bertanya, “Nasehat untuk siapa?”, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam
menjawab, “Untuk Allah, untuk Kitab-Nya, untuk Rasul-Nya, untuk
pemimpin kaum muslimin dan untuk kaum muslimin secara umum.” [1]
Keutamaan Hadits
Imam Nawawi rahimahullah mengatakan, hadits ini memiliki
kedudukan yang sangat agung. Di dalam hadits tersebut terkandung poros
seluruh ajaran agama Islam. Artinya seluruh ajaran agama Islam berputar
berdasrkan hadits tersebut.pent Adapun perkataan sebagian
ulama, yang mereka mengatakan bahwa hadits ini merupakan seperempat
agama, maka hakikatnya bukanlah seperti apa yang mereka katakan. Bahkan
yang benar adalah seluruh ajaran agama Islam berporos pada hadits ini.(Syarah Shahih Muslim, 2/116).
Syaikh Sholeh Alu Syaikh hafidzohullahu mengatakan, seluruh ajaran agama Islam tercakup di dalam hadits ini, yaitu hadits Ad Dinu An Nashihah. Karena hadits tersebut mencakup segala macam hak, yaitu hak Allah subhanahu wa ta’ala, hak Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam dan hak manusia pada umumnya.(Syarah Arba’in An Nawawiyah, Syaikh Sholeh Alu Syaikh, hal.125)
Maka seluruh perkara dalam ajaran agama Islam terangkum dalam hadits
yang singkat ini. Baik perkara aqidah, perkara ibadah ataupun perkara
mu’amalah. Di mana seluruh perkara tersebut merupakan perwujudan
hak-hak yang disebutkan di dalam hadits tersebut.
Makna Hadits
Dalam hadits tersebut Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam memberitakan kepada para shahabat beliau bahwa hakikat agama Islam adalah nasehat. Beliau bersabda “Ad Diinu An Nashihatu”. Ditinjau dalam ilmu nahwu, perkataan beliau ini terdiri dari mubtada’[2] dan khobar[3] yang keduanya dalam keadaan ma’rifat[4]
(definit). Keadaan semacam ini merupakan keadaan yang khusus.
Dijelaskan oleh para ahli bahasa arab, bahwa keadaan semacam ini, yaitu mubtada’ dan khobar yang keduanya dalam keadaan ma’rifat, dimaknai dengan makna pembatasan.
Maka sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam di sini, yaitu: “agama adalah nasehat” dapat dimaknai dengan ungkapan: “tidaklah agama Islam ini melainkan hanyalah nasehat semata”.(Syarah Arba’in Nawawiyah, Muhammad bin Sholeh Al’Utsaimin, hal. 135.)
Kata (الدين) ‘ad din’ dalam bahasa arab memilki dua makna. Makna pertama adalah ‘pembalasan’, sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala
dalam surat al-Fatihah, (مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ), yang artinya
adalah, “Yang menguasai hari Pembalasan”. Makna yang kedua adalah
‘agama’, sebagaimana firman Allah ta’ala dalam surat
al-Ma’idah (وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِينًا ), artinya “Dan telah
Aku ridhoi Islam sebagai agama bagi kalian”.
Kesimpulan yang tepat dalam hadits tersebut, kata ‘ad dinu’ dimaknai dengan makna yang kedua, yaitu ‘agama’. (Syarah Arba’in Nawawiyah, Muhammad bin Sholeh Al’Utsaimin, hal. 136).
Abu Sulaiman Al Khathabi rahimahullahu mengatakan tentang definisi an nashihah (nasehat). Beliau mengatakan bahwa “an nashihah” merupakan kata yang luas cakupan maknanya. Maknanya adalah menghendaki kebaikan bagi orang lain yang diberi nasehat. Kata an nashihah diambil dari ungkapan (نصح الرجل ثوبهه)/nashoha ar rajulu tsaubahu,
artinya seseorang yang menjahit pakaiannya. Perbuatan seseorang yang
memberi nasehat kepada orang lain, pada hakekatnya adalah menghendaki
kebaikan pada orang yang diberi nasehat. Hal ini diserupakan dengan
perbuatan seorang penjahit yang menambal lubang pada pakaian. (Syarah Shahih Muslim,hal. 116)
Syaikh Sholeh bin ‘Abdul ‘Aziz Alu Syaikh hafidzohullahu menjelaskan, kata ‘an nashihah’ dalam bahasa Arab, dapat ditafsirkan dengan dua penafsiran :
- Pertama, kata ‘an nashihah’ dimaknai dengan (الخلوص) ‘al khulus’, yang artinya suci dan bersih dari kotoran. Semisal dikatakan dalam bahasa arab : (عسل ناصح) ‘aslun nashihun’, artinya madu yang tidak tercampur dengan pengotor apapun.
- Kedua, kata ‘an nashihah’ dimaknai dengan ‘al iltiamu syaiaini’ (dua hal yang saling merapat dan bersatu, sehingga tidak berjauhan di antara keduanya). Artinya kita membuat hubungan yang sesuai antara dua hal, sehingga kedua hal tersebut merapat dan tidak ada celah di antara keduanya. Maka dikatakan bahwa penjahit (الخياط)/ ‘al khiyatu’ merupakan orang yang memberikan nasehat (ناصح)/ ‘an nashihu’, karena biasanya seorang penjahit menyatukan antara dua sisi kain dengan jahitan yang dia buat.
Kemudian berangkat dari macam pengertian ini, Syaikh Sholeh Alu Syaikh hafidzohullahu menjelaskan tentang kata nasehat dalam hadits yang mulia tersebut. Kata nasehat ketika dimaknai dengan ‘menghendaki kebaikan pada orang yang diberi nasehat’, maka pengertian ini hanyalah terkait dengan nasehat kepada pemimpin kaum muslimin dan kaum muslimin pada umumnya.
Adapun nasehat kepada tiga yang awal, yaitu kepada Allah subhanahu wa ta’ala, kepada Kitab-Nya dan kepada Rasul-Nya, maka makna nasehat di sini dimaknai dengan ‘iltiamu syaiaini/ merapatnya hubungan antara kedua hal, sehingga keduanya saling berdekatan dan tidak terpisah. Yaitu dengan memenuhi haknya masing-masing secara penuh, berupa hak Allah subhanahu wa ta’ala, hak Kitab-Nya dan hak Rasul-Nya , sebagaimana disebutkan dalam hadits.
Seorang hamba mendekatkan diri kepada Rabbnya yaitu dengan memenuhi hak-hak Allah subhanahu wa ta’ala,
dimana hal ini merupakan kewajiban bagi seorang hamba. Begitu pula
yang seharusnya seorang hamba lakukan berkaitan dengan hak-hak Al Quran
dan hak Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam. (Syarah Arba’in An Nawawiyah, Syaikh Sholeh Alu Syaikh, hal. 125-126).
Dalam hadits tersebut, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam sengaja menyamarkan perkataan beliau tentang hakikat agama Islam di hadapan para shahabat radhiyallahu ‘anhum,
dengan beliau hanya mengatakan (yang artinya) “agama adalah nasehat”.
Hal ini dimaksudkan agar para shahabat bertanya-tanya tentang
penjelasan dari perkataan beliau tersebut.
Karena dalam bahasa arab, bahkan dalam seluruh bahasa yang ada,
perkataan yang mula-mula datang dalam bentuk global, baru kemudian
datang perincian dan penjelasannya, merupakan salah satu sebab kuatnya
pemahaman orang yang mendengarnya. Karena orang yang mendengarkan
perkataan dalam bentuk global, akan dibuat bertanya-tanya dan berusaha
mencari perinciannya. Hal ini merupakan salah satu metode agar orang
yang mendengarkan lebih paham dan perhatian terhadap apa yang dikatakan.
Berbeda apabila penjelasannya sudah datang di awal perkataan. (Syarah Arba’in Nawawiyah, Muhammad bin Sholeh Al’Utsaimin, hal. 136)
Kandungan Hadits
Nasehat kepada Allah subhanahu wa ta’ala (النّصيحة لله)
Sebagaimana penjelasan yang telah lewat bahwa nasehat kepada Allah subhanahu wa ta’ala artinya merapatnya hubungan seorang hamba kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan cara menunaikan hak-hak Allah subhanahu wa ta’ala dengan baik. Baik itu berupa hak-hak yang wajib maupun hak-hak yang mustahab.
Al Khathabi rahimahullahu mengatakan, “Hakekat penyandaran sebuah nasehat kepada Allah subhanahu wa ta’ala, sebenarnya akan kembali kepada hamba itu sendiri. Adapun Allah subhanahu wa ta’ala adalah maha kaya dan tidak membutuhkan nasehat hamba-Nya.”(Syarah Shahih Muslim, Imam An Nawawi, hal. 116)
Para ulama telah banyak menjelaskan tentang makna nasehat kepada Allah subhanahu wa ta’ala.
Hampir seluruh penjelasan yang mereka berikan bermuara pada satu
maksud yang sama. Sebagaimana dikatakan secara ringkas oleh Imam Nawawi
rahimahullah:
“Nasehat kepada Allah subhanahu wa ta’ala artinya beriman
kepada-Nya dengan tidak mempersekutukan-Nya dengan suatu apapun,
meninggalkan segala bentuk pengingkaran dan penentangan terhadap
sifat-sifat-Nya, mensifati-Nya dengan sifat-sifat kesempurnaan dan
keagungan, mensucikan-Nya dari segala macam kekurangan, melaksanakan
ketaatan kepada-Nya, meninggalkan segala macam maksiat kepada-Nya, cinta
dan benci karena-Nya, bersikap wala’ (loyal) kepada
orang-orang yang taat kepada-Nya dan membenci orang-orang yang
bermaksiat kepada-Nya, memerangi orang-orang yang kufur kepada-Nya,
mengakui nikmat-nikmat-Nya dan bersyukur atas nikmat-nikmat tersebut,
ikhlas dalam segala macam urusan, mengajak dan medorong orang lain untuk
berperilaku dengan sifat-sifat di atas, dan bersikap lemah lembut
kepada seluruh manusia atau sebagian dari manusia”. (Syarah Shahih Muslim, Imam An Nawawi, hal. 116)
Intinya adalah sebagaimana dikatakan oleh Syaikh ‘Utsaimin rahimahullah, “Nasehat kepada Allah subhanahu wa ta’ala
mencakup dua perkara: pertama adalah ikhlas dalam beribadah
kepada-Nya, dan yang kedua adalah bersaksi atas keesaan dan tunggalnya
Allah subhanahu wa ta’ala dalam rububiyah, uluhiyah dan asma’ wa sifat-Nya. (Syarah Arba’in Nawawiyah, Muhammad bin Sholeh Al’Utsaimin, hal. 136)
Adapun hak-hak Allah subhanahu wa ta’ala yang mustahab, contohnya adalah tidak menyandarkan hati kepada selain Allah ta’ala, mendekatkan diri kepada Allah ta’ala dengan mengerjakan ibadah-ibadah sunnah, senantiasa mengingat Allah ta’ala baik dalam keadaan sendiri ataupun bersama orang lain dan perkara-perkara lainnya yang termasuk hak-hak Allah ta’ala yang mustahab.(Syarah Arba’in An Nawawiyah, Syaikh Sholeh Alu Syaikh, hal. 127)
Nasehat kepada kitab Allah (النّصيحة لكتابه)
Bentuk nasehat yang wajib kepada kitab Allah subhanahu wa ta’ala
secara ringkas adalah melindungi dan membela Al Quran dari penyimpangan
orang-orang yang hendak menyelewengkan Al Quran dan menjelaskan
penyimpangan mereka kepada umat manusia, meyakini kebenaran
berita-berita yang terkandung dalam Al Quran tanpa keraguan sedikit pun,
melaksanakan seluruh perintah-perintah dan segala hal yang terkandung
di dalam Al Quran, menjauhi setiap perkara yang dilarang dalam Al
Quran.
Bentuk nasehat lainnya adalah meyakini bahwa hukum yang terkandung di
dalam Al Quran adalah sebaik-baik hukum dan tidak ada satupun hukum
manusia yang mampu menyainginya dan mengimani bahwa Al Quran adalah
benar-benar kalam Allah Jalla wa ‘Alaa, lafadz dan maknanya, mengimani bahwa Allah subhanahu wa ta’ala benar-benar telah berfirman dengannya, kemudian diterima oleh Jibril ‘alaihisalam dan Jibril menurunkannya kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam, sebagai peringatan kepada umat manusia.(Syarah Arba’in Nawawiyah, Muhammad bin Sholeh Al’Utsaimin, hal. 137)
Imam Nawawi rahimahullahu menambahkan, diantara bentuk
nesahat kepada Al Quran adalah seseorang berusaha untuk memahami
kandungan Al Quran, mempelajari isinya, merenungi kemukjizatannya,
beramal dengan ayat-ayat yang muhkam, dan tunduk kepada ayat-ayat yang mutasyabih.( Syarah Shahih Muslim, hal. 116)
Adapun nasehat kepada Al Quran yang mustahab, contohnya
adalah memperbanyak membacanya, merenungi makna-makna yang terkandung
dalam Al Quran, berobat dengannya, baik untuk mengobati penyakit hati
maupun penyakit fisik, yaitu dengan ruqyah yang syar’i, dan contoh lainya sebagaimana keterangan yang datang dalam sunnah tentang hak-hak Al Quran.
Nasehat kepada Rasul Allah (النّصيحة لرسوله)
Nasehat kepada Rasul Allah, khususnya adalah kepada Rasulullah Muhammad bin Abdillah shalallahu ‘alaihi wa salam
yaitu dengan membenarkan segala yang diberitakan oleh beliau, mantaati
apa yang diperintahkan oleh beliau, menjauhi segala sesuatu yang
dilarang oleh beliau dan tidak beribadah melainkan dengan apa yang
beliau shalallahu ‘alaihi wa salam syariatkan.(Tsalatsatul Ushul, Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab)
Imam Nawawi rahimahullahu menjelasakan di antara bentuk nasehat kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam
adalah dengan meyakini kebenaran risalah beliau dan mengimani segala
yang datang dari beliau, mentaati segala perintah dan larangan beliau.
Kemudian Imam Nawawi rahimahullahu menambahkan, diantara
bentuk yang lain adalah menolong beliau, baik ketika beliau masih hidup
ataupun telah wafat. Yaitu dengan memusuhi orang-orang yang memusuhi
beliau, mencintai orang-orang yang mencintai beliau, mengagungkan
hak-hak beliau, menghidupkan sunnah beliau, membela dan menyebarkan
dakwah dan ajaran beliau shalallahu ‘alaihi wa salam,
mempelajarinya, mendoakan beliau, lemah lembut dalam belajar dan
mengajarkan ajaran belaiu, beradab dalam membaca hadits-hadits belaiu,
dan menahan diri dari berkata-kata tentang sesuatu dalam agama tanpa
ilmu.
Nasehat yang lainnya adalah seseorang berakhlak dengan akhlak beliau, mencintai ahlul bait
dan keluarga beliau, menjauhi setiap orang yang membuat bid’ah dalam
ajaran beliau dan orang yang membenci para keluarga dan shahabat
belaiu. (Syarah Shahih Muslim, 2/116)
Nasehat kepada Pemimpin Kaum Muslimin (النّصيحة ل لأئمَّة المسلمين )
Pemimpin kaum muslimin dalam Islam, dapat digolongkan menjadi dua :
- Pertama: Mereka adalah ulama, yaitu ulama rabbaniyin. Mereka merupakan pewaris Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam, baik ilmu, ibadah, akhlak dan dakwahnya. Para ulama inilah yang menjadi pemimpin kaum muslimin yang haqiqi, karena merekalah yang mendidik umat dan merekalah yang menjadi pembimbing para penguasa kaum muslimin, mereka lah yang menjelaskan Islam dan menyeru manusia untuk masuk ke dalam agama Islam.
- Kedua: Pemimpin kaum muslim yang kedua adalah al umara / penguasa yang menjalankan kekuaksaannya berdasarkan hukum-hukum Allah ta’ala.
Bentuk nasehat kepada al‘ulama arrabbanyin adalah mencintai
mereka, menolong mereka dalam menjelaskan kebenaran kepada manusia,
baik dengan menyebarkan tulisan-tulisan mereka atau melalui
sarana-sarana lain yang sangat beragam dan berbeda-beda di tiap waktu
dan tempat. Nasehat kepada ulama yang lain adalah membela mereka dari
celaan orang-orang yang membenci mereka dan memberitahu mereka dengan
baik dan penuh rasa hormat, tatkala mereka terjatuh kepada kesalahan. ( Syarah Arba’in Nawawiyah, Muhammad bin Sholeh Al’Utsaimin, hal. 140)
Adapun bentuk nasehat kepada al umara’ adalah dengan
mengakui kepemimpinan dan kekuasaan mereka, menyebarkan
kebaikan-kebaikan mereka di tengah-tengah masyarakat, dimaksudkan dengan
tersebarnya kebaikan-kebaikan seorang penguasa, maka masyarakat pada
umumnya akan lebih mudah untuk menaati mereka. (Syarah Arba’in Nawawiyah, Muhammad bin Sholeh Al’Utsaimin, hal. 140-141)
Kemudian bentuk nasehat lainnya adalah mentaati perintah-perintah
mereka dan larangan-larangan mereka selama perintah dan larangan mereka
tidak menyelisihi syari’at Allah subhanahu wa ta’ala. Sebagaimana Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ…(النساء : 59)
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, taatlah kalian kepada Allah, taatlah kalian kepada Rasul, dan penguasa kalian”(An Nisa: 59).
Sebagaimana dijelaskan oleh para ulama, bahwa perintah “taatilah” dalam ayat tersebut, diulang dalam ketaatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam.
Hal ini menunjukkan bahwa ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya bersifat
muthlak. Adapun dalam perintah taat kepada penguasa, di dalam ayat
tersebut tidak ada kata perintah “taatilah”. Hal ini
mengisyaratkan bahwa taat kepada penguasa tidak bersifat muthlak, yaitu
ketaatan kepada mereka adalah ketika tidak bertentangan dengan syariat
Allah dan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam .
Sebagaimana Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda
لا طاعة لمخلوق فى معصية الخالق
Artinya : “Tidak ada ketaatan dalam maksiat kepada Al Khaliq (Allah)”[5]
Selain itu diantara bentuk nasehat kepada al umara’ yang
lainnya adalah menasehati mereka dengan lemah lembut dan kata-kata yang
sopan, ketika mereka terjatuh kepada kekeliruan dan tidak memberontak
kepada mereka, meskipun penguasa tersebut adalah orang yang dholim dan fajir, selama penguasa tersebut muslim. Bahkan perkara ini merupakan ijma’ para ulama ahlus sunnah wal jamaah, dan menyelisihi keyakinan firqah sesat khawarij.
Imam Nawawi rahimahullahu berkata
وأما الخروج عليهم وقتالهم فحرام بإجماع
“Dan adapun memberontak kepada mereka (para penguasa) dan
memerangi mereka, maka hal ini merupakan keharaman, dengan kesepakatan
kaum muslimin.” (Syarah Shahih Muslim, hal. 472)
Ibnu Bathal rahimahullahu berkata:
في الحديث حجة في ترك الخروج على السلطان ولو جار وقد أجمع الفقهاء على
وجوب طاعة السلطان المتغلب والجهاد معه وأن طاعته خير من الخروج عليه لما
في ذلك من حقن الدماء وتسكين الدهماء وحجتهم هذا الخبر وغيره مما يساعده
ولم يستثنوا من ذلك إلا إذا وقع من السلطان الكفر
“Dalam hadits ini terdapat hujjah atas terlarangnya memberontak
kepada penguasa, meskipun mereka dholim, dan para ulama ahli fiqih telah
sepakat atas wajibnya taat kepada para penguasa yang mutagholib[6],
dan wajib berjihad bersama mereka. Dan sesungguhnya mentaati mereka
adalah lebih baik dari pada memberontak kepada mereka. Karena dengannya,
pertumpahan darah bisa dihindari, dan ketentraman dapat terwujud.
Dalil mereka adalah hadits ini, dan hadits lainya yang serupa
dengannya. Para ulama tidak mengecualikan kesepatakan ini melainkan
jika para penguasa tersebut telah jatuh pada kekufuran yang nyata. (Dinukil oleh Ibnu Hajar dalam Kitab Fathul Bari, Maktabah Syamilah)
Nasehat kepada Kaum Muslimin secara Umum ( النّصيحة لعَامَّة الْمسلمين)
Bentuk nasehat kepada kaum muslimin, secara umum yaitu membimbing
mereka untuk menuju kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Hal ini mecakup
berbagai perkara, diantaranya: mencintai mereka karena Allah, menolong
mereka dalam kebaikan, saling tolong menolong dalam kebajikan, dan
tidak saling tolong menolong dalam perbuatan dosa dan maksiat,
menjelaskan kepada mereka tentang kebenaran dan menasehati mereka
dengan berbagai macam jenis nasehat, baik dengan lisan maupun
perbuatan.
Bentuk lainnya adalah dengan mengingkari kemungkaran-kemungkaran yang mereka lakukan, dalam rangka menjaga hak Allah subhanahu wa ta’ala.
Sehingga apabila dipandang perlu untuk melakukan hukuman, maka
hendaklah ditegakkan hukuman kepada mereka, yaitu berupa hukuman had atau yang lainnya. (Syarah Arba’in An Nawawiyah, Syaikh Sholeh Alu Syaikh, hal. 127)
Syaikh Utsaimin rahimahullahu menambahkan yaitu dengan
menampakkan wajah yang ceria kepada mereka, menyebarkan salam kepada
mereka tatkala bertemu, menasehati dan menolong mereka, dan yang
lainnya, yang dengannya akan terwujud kebaikan dan tercegah keburukan. (Syarah Arba’in Nawawiyah, Muhammad bin Sholeh Al’Utsaimin, hal. 143)
Demikianlah apa yang kami nukilkan dari penjelasan para ulama. Semoga dapat memberikan faedah, terutama kepada penulis. Wallahu ta’ala a’lamu bishowab, alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimush shalihat.
Abu Fauzan Hanif Nur Fauzi (santri Ma’had ‘Ilmi)
[1] HR.Muslim, Kitabul Iman, Bab Bayan anna ad Dinna An Nashihatu (Bab Penjelasan bahwa Agama adalah Nasehat) no. 55.[2]Mubtada’ adalah sebuah kata yang diterangkan dalam konteks pembicaraan tersebut, yang pada umunya berada di awal kalimat. (Al Qowa’idul Asasiyah, hal. 97). Dalam hadits tersebut mubtada’-nya adalah Ad Diinu.
[3]Khobar adalah kata yang memberikan keterangan pada mubtada’, sehingga susunan antara mubtada’ dan khobar merupakan kalimat yang sempurna maknanya. (Al Qowa’idul Asasiyah, hal. 97). Dalam hadits tersebut khobar-nya adalah An Nashihatu.
[4] Ma’rifat adalah sebuah kata yang menunjukkan kepada sesuatu yang sudah tertentu dan jelas (definit). (Al Qowa’idul Asasiyah, hal.61). Biasanya kata yang ma’rifat adalah kata yang diawali dengan al- (ال). Dalam lafadz hadits tersebut, mubtada’ dan khobar, keduanya didahului oleh al- (ال).
[5] Hadits diriwayatkan oleh Tirmidzi
[6] Penguasa mutagholib artinya penguasa yang berhasil menjatuhkan kekuasaan pemerintah sebelumnya.
aspirasidiri : Fenomena Berkaitan Remaja Terlibat Dalam Aktiviti Pergaulan Bebas
Fenomena Perlakuan Positif dalam kalangan Remaja ditenglami dengan Fenomena Perlakuan Negatif Dalam Kalangan Remaja. Para remaja sekalian....Kita perlu merasa diri kita beragama. Dengan menghayati agama yang kita anuti iaitu ISLAM. Dalam satu Hadis di bahagian awalnnya « الدِّينُ النَّصِيحَةُ » قُلْنَا لِمَنْ قَالَ « لِلَّهِ
وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُولِهِ وَلأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ وَعَامَّتِهِمْ
». ada menyatakan (dalam hadis 40) Addinnunasihah .... agama Islam) adalah nasihat bagi kamu... ada yang mengkesampingkan agama kerana mengganggapnya sebagai satu halangan.... ini adalah kerana ... ada yang tidak merasakan Agama adalah nasihat... ingin berpakaian... agama adalah nasihat bagi kamu.... ingin makan dan memenuhi selera makan ... agama adalah nasihat bagi kamu... ingin berkawan... agama adalah nasihat bagi kamu... teringin bercinta... agama adalah nasihat bagi kamu.... apa sahaja yang kita ingin atau sedang lakukan .... agama adalah nasihat bagi kamu... berkenal-kenalan, bersahabat, berkawan, bercinta, interaksi lelaki perempuan .... agama adalah nasihat bagi kamu..... tidak melakukan perkara yang di larang Allah .... kerana seseorang itu menganggap agama adalah sentiasa mensaihatkannya.... kerana mereka yang baeragama akan ada sifat malu bagi dirinya.... hilang sifat malu... nah buatlah apa yang kamu suka.... tapi ingat hidup ada kesudahannya, iaitu mati dan kehidupan selepasnya. Bukanah malaikat kiromankatibin sentiasa mencatat apa yang kita lakukan samaada sedang bersendirirn atau di hadapan khalayak ?. Apakah kita tidak pernah mendengar setiap perbuatan baik atau jahat yang kita lakukan walau sebesar zarah sekalipun akan ditunjukkan di hari Kemudian ? Maksudnya akan diperhitungkan di hadapan Allah . Ingatlah pada waktu itu bukan mulut yang berkata-kata... tetapi yang berkata-kata adalah anggota tubuh badan kita. Yang akan menjawap setiap perkara yang dikemukakan kepada kita nanti. Ingatlah Agam (Islam) adalah nasihat cara hidup kita. Islamlah nescaya kamu akan selamat. Kepada para ibu bapa jangan terlepas mata kita memerhati perlakuan anak-anak kita....
Jumlah Remaja Hamil Mendapatkan Khidmat di Fasiliti Kerajaan
Tahun
|
Remaja Hamil
Umur 10 Hingga 19 Tahun)
|
Jumlah Yang Tidak Berkahwin
|
2011
|
18,652
Orang
|
4,222
Orang (23%)
|
2012 ( Sehingga Jun 2012)
|
9,082
Orang
|
2,008
Orang (23%)
|
*Tujuh kes kematian remaja hamil dilaporkan dari Jan hingga Jun dan empat daripadanya membabitkan remaja tidak berkahwin*
Sumber : KKM dalam HM Ahad 4.11.2012
KUALA LUMPUR: Peringatan kepada ibu bapa yang mempunyai anak gadis. Rekod Kementerian Kesihatan (KKM) dalam tempoh 18 bulan dari Januari tahun lalu hingga Jun lalu mendapati, seramai 6,310 remaja perempuan yang hamil dan berdaftar di hospital atau klinik kerajaan tidak berkahwin, termasuk pelajar sekolah.
Jumlah itu tidak termasuk remaja menggugurkan kandungan secara haram di klinik swasta seluruh negara.
Pengarah Bahagian Pembangunan Kesihatan Keluarga KKM, Dr Safurah Jaafar berkata, seramai 9,082 remaja hamil berusia 10 hingga 19 tahun berdaftar di hospital atau klinik kerajaan, dengan purata 1,500 kes sebulan dari Januari hingga Jun tahun ini.
“Daripada jumlah itu, 2,088 (23 peratus) tidak berkahwin. Tujuh kes kematian remaja hamil dilaporkan dan empat daripadanya tidak berkahwin. Ini menunjukkan risiko kematian di kalangan remaja hamil, khususnya tidak berkahwin, tinggi iaitu 57 peratus.
“Tahun lalu, 18,652 remaja hamil mendapatkan perkhidmatan di fasiliti kesihatan kerajaan dengan 4,222 atau 23 peratus daripada jumlah itu tidak berkahwin,” katanya. kepada Metro Ahad.
Beliau berkata, remaja atau pelajar sekolah yang mengandung boleh mendapat perkhidmatan kesihatan di mana-mana klinik kesihatan atau hospital secara percuma.
“Namun, pihak berkuasa boleh mengambil tindakan mengikut Akta Kanak-kanak 2001,” katanya.
“Di samping KKM, ia memerlukan gabungan kerjasama Kementerian Pelajaran, Kementerian Pembangunan Wanita dan Masyarakat (KPWKM), jabatan perundangan, jabatan agama dan masyarakat,” katanya.
hm setempat 4-11-2012 SUMBER
02 November 2012
aspirasidiri : Artikal Perkongsian
Ubah Cara Ukur Kejayaan Pendidikan
BH, 2-11-2012
Perihal membicarakan mengenai pendidikan amat terkait rapat dengan pemain utamanya iaitu guru. Guru adalah kelompok barisan hadapan yang perlu memastikan proses pendidikan berlangsung dengan jaya. Kejayaan pendidikan bukanlah sekadar diukur dengan nilai gred purata subjek mahupun jumlah 'A', tetapi perlu kepada pertimbangan yang lebih luas membabitkan sahsiah dan keutuhan nilai dalam diri anak didiknya.
Menerusi pemerhatian yang dilakukan oleh Malik Bennabi merumuskan
bahawa masalah pendidikan yang dihadapi oleh negara Islam adalah
kegagalan melahirkan manusia yang terpadu antara keyakinan atau tauhid
dengan tingkah laku dan akhlak serta mampu melahirkan penyelesaian
terhadap permasalahan kehidupan. Beliau menyatakan: “...the origin of
all the problems in the Muslim world is facing, is the disintegrated
man.”
Permasalahan ini melahirkan kelompok manusia bertamadun, tetapi hilang keghairahan (jiwa) tamadun. Antara kesimpulan yang beliau berikan terhadap pendidikan adalah satu proses asimilasi (penghadaman) antara keyakinan dan nilai serta mampu memberikan jalan keluar terhadap permasalahan kehidupan.
Jika ini menjadi pokok pangkal kepada permasalahan pendidikan di negara Islam, maka golongan guru perlu menjadi golongan pertama yang mampu menjiwai watak ketamadunan dan mengubah sifat bangsa ke arah yang lebih mulia lagi.
Guru model semua aspek
Ungkapan Jawa yang dipetik oleh Dr Suwardi Endraswara dalam memperihalkan guru amat menarik. Ungkapan “digugu lan ditiru” bermaksud seorang guru itu mestilah boleh ditiru perkataannya, perbuatannya, tingkah lakunya, pakaiannya dan amalannya. Guru juga mesti boleh dipercayai akan amanahnya, bertanggungjawab serta jujur dalam semua aspek kehidupannya.
Tambah beliau lagi, perkataan ‘guru’ itu berasal daripada dua perkataan bahasa jawa. ‘Gu’ berasal daripada perkataan ‘gugu’ yang bermaksud boleh dipercayai, manakala ‘Ru’ berasal daripada perkataan ‘tiru’ bermaksud dicontohi atau dituruti. Maka maksud perkataan ‘guru’ itu adalah seseorang yang boleh diteladani kerana mempunyai pekerti tinggi dan dipercayai.
Dari sini suasana kerja seorang guru perlu kondusif untuk menghayati kriteria manusia bertamadun agar kriteria itu dapat diperturunkan kepada anak didiknya. Kriteria manusia bertamadun adalah manusia yang terpadu keyakinannya, daya fikirnya, nilai pegangannya dan amalan serta tindakannya. Kita tidak mahu melahirkan manusia yang menghayati dualisme, mengasingkan keyakinan dan amalan, dunia dan akhirat serta hilang arah dan tujuan hidupnya.
Suasana kerja guru yang menghambat nilai gred purata subjek perlu diubah. Fenomena guru dipersoal jika anak murid gagal mencapai nilai keputusan jangkaan (ETR) perlu dikaji semula. Sepatutnya pengetua mahu pun guru besar yang memanggil guru atau memberikan surat tunjuk sebab atas sebab yang dinyatakan di atas, perlu dipersoalkan tindakan yang menyimpang jauh daripada semangat pendidikan yang luhur. Begitu juga pengarah pelajaran negeri yang awal-awal lagi menetapkan sasaran nilai gred keseluruhan bagi negeri perlu dipanggil untuk memberikan penjelasan.
Ubah cara nilai guru
Kita keliru dengan ukuran kita sendiri. Apa salahnya jika menurunkan nilai purata gred subjek, tetapi menekankan pengurangan kes pelanggaran disiplin? Bukan menjadi keaiban mahupun kesalahan jika pencapaian akademik menurun berbanding tahun sebelumnya tetapi sahsiah pelajarnya jauh lebih baik berbanding pelajar tahun sebelumnya.
Begitu juga dalam hal kenaikan pangkat bukan menjadi ukuran mutlak pencapaian akademik pelajarnya, tetapi akhlak guru itu serta kesungguhan dan komitmen yang ditunjukkan guru dalam menjayakan proses pendidikan yang menyeluruh.
Ubah cara menilai terhadap guru, insya-Allah akan berubah penilaian guru terhadap muridnya. Penilaian terhadap guru perlu diubah bermula daripada latihan perguruan lagi. Calon guru mesti dalam kalangan yang mempunyai jati diri tinggi, berpendirian mulia dan mampu berhadapan cabaran dunia pendidikan. Jangan bertumpu pada pencapaian akademik semata-mata. Calon guru mestilah individu yang mampu menjadi suri teladan yang baik seperti disimpulkan pada peribadi Baginda Rasulullah SAW sebagai ‘uswah hasanah’.
Seharusnya kita memahami mengapa dalam mengkategorikan guru, Imam al-Ghazali meletakkan guru yang berperanan sebagai ‘muaddib’ berada pada tingkatan yang tertinggi. ‘Muaddib’ adalah guru yang beradab dan mampu mengadabkan anak didiknya. Jadi guru dan mereka yang mentadbir guru perlu bermuhasabah bagi menggaris hala tuju kerjaya perguruan.
Penulis ialah Presiden Angkatan Belia Islam Malaysia
BH, 2-11-2012
Perihal membicarakan mengenai pendidikan amat terkait rapat dengan pemain utamanya iaitu guru. Guru adalah kelompok barisan hadapan yang perlu memastikan proses pendidikan berlangsung dengan jaya. Kejayaan pendidikan bukanlah sekadar diukur dengan nilai gred purata subjek mahupun jumlah 'A', tetapi perlu kepada pertimbangan yang lebih luas membabitkan sahsiah dan keutuhan nilai dalam diri anak didiknya.
Guru dan mereka yang mentadbir guru perlu muhasabah bagi menggaris hala tuju kerjaya perguruan”
Permasalahan ini melahirkan kelompok manusia bertamadun, tetapi hilang keghairahan (jiwa) tamadun. Antara kesimpulan yang beliau berikan terhadap pendidikan adalah satu proses asimilasi (penghadaman) antara keyakinan dan nilai serta mampu memberikan jalan keluar terhadap permasalahan kehidupan.
Jika ini menjadi pokok pangkal kepada permasalahan pendidikan di negara Islam, maka golongan guru perlu menjadi golongan pertama yang mampu menjiwai watak ketamadunan dan mengubah sifat bangsa ke arah yang lebih mulia lagi.
Guru model semua aspek
Ungkapan Jawa yang dipetik oleh Dr Suwardi Endraswara dalam memperihalkan guru amat menarik. Ungkapan “digugu lan ditiru” bermaksud seorang guru itu mestilah boleh ditiru perkataannya, perbuatannya, tingkah lakunya, pakaiannya dan amalannya. Guru juga mesti boleh dipercayai akan amanahnya, bertanggungjawab serta jujur dalam semua aspek kehidupannya.
Tambah beliau lagi, perkataan ‘guru’ itu berasal daripada dua perkataan bahasa jawa. ‘Gu’ berasal daripada perkataan ‘gugu’ yang bermaksud boleh dipercayai, manakala ‘Ru’ berasal daripada perkataan ‘tiru’ bermaksud dicontohi atau dituruti. Maka maksud perkataan ‘guru’ itu adalah seseorang yang boleh diteladani kerana mempunyai pekerti tinggi dan dipercayai.
Dari sini suasana kerja seorang guru perlu kondusif untuk menghayati kriteria manusia bertamadun agar kriteria itu dapat diperturunkan kepada anak didiknya. Kriteria manusia bertamadun adalah manusia yang terpadu keyakinannya, daya fikirnya, nilai pegangannya dan amalan serta tindakannya. Kita tidak mahu melahirkan manusia yang menghayati dualisme, mengasingkan keyakinan dan amalan, dunia dan akhirat serta hilang arah dan tujuan hidupnya.
Suasana kerja guru yang menghambat nilai gred purata subjek perlu diubah. Fenomena guru dipersoal jika anak murid gagal mencapai nilai keputusan jangkaan (ETR) perlu dikaji semula. Sepatutnya pengetua mahu pun guru besar yang memanggil guru atau memberikan surat tunjuk sebab atas sebab yang dinyatakan di atas, perlu dipersoalkan tindakan yang menyimpang jauh daripada semangat pendidikan yang luhur. Begitu juga pengarah pelajaran negeri yang awal-awal lagi menetapkan sasaran nilai gred keseluruhan bagi negeri perlu dipanggil untuk memberikan penjelasan.
Ubah cara nilai guru
Kita keliru dengan ukuran kita sendiri. Apa salahnya jika menurunkan nilai purata gred subjek, tetapi menekankan pengurangan kes pelanggaran disiplin? Bukan menjadi keaiban mahupun kesalahan jika pencapaian akademik menurun berbanding tahun sebelumnya tetapi sahsiah pelajarnya jauh lebih baik berbanding pelajar tahun sebelumnya.
Begitu juga dalam hal kenaikan pangkat bukan menjadi ukuran mutlak pencapaian akademik pelajarnya, tetapi akhlak guru itu serta kesungguhan dan komitmen yang ditunjukkan guru dalam menjayakan proses pendidikan yang menyeluruh.
Ubah cara menilai terhadap guru, insya-Allah akan berubah penilaian guru terhadap muridnya. Penilaian terhadap guru perlu diubah bermula daripada latihan perguruan lagi. Calon guru mesti dalam kalangan yang mempunyai jati diri tinggi, berpendirian mulia dan mampu berhadapan cabaran dunia pendidikan. Jangan bertumpu pada pencapaian akademik semata-mata. Calon guru mestilah individu yang mampu menjadi suri teladan yang baik seperti disimpulkan pada peribadi Baginda Rasulullah SAW sebagai ‘uswah hasanah’.
Seharusnya kita memahami mengapa dalam mengkategorikan guru, Imam al-Ghazali meletakkan guru yang berperanan sebagai ‘muaddib’ berada pada tingkatan yang tertinggi. ‘Muaddib’ adalah guru yang beradab dan mampu mengadabkan anak didiknya. Jadi guru dan mereka yang mentadbir guru perlu bermuhasabah bagi menggaris hala tuju kerjaya perguruan.
Penulis ialah Presiden Angkatan Belia Islam Malaysia
01 November 2012
Subscribe to:
Posts (Atom)
Modul Guru Penyayang
Posting Ke-2 Paling Popular (1041 Pelawat)(25873 Pelawat 14.4.2015)
Teks disusun dan dibacakan oleh nurabadi sempena hari Anugerah Cemerlang & Konvokesyen Pra Sekolah SK Seri Taman Kluang Barat 2011
Labels: Doa
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
اَلْحَمْدُ ِللهِ رَبِ الْعَالَمِيْنَ حَمْدًا يُوَافِى نِعَامَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيْدَهُ يَارَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ كَمَا يَنْبَغِيْ لِجَلاَلِ وَجْهِكَ وَعَظِيْمِ سُلْطَانِكَ اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلاَةً تُنْجِيْنَا بِهَا مِنْ جَمِيْعِ اْلأَهْوَالِ وَاْلآفَاتِ وَتَقْضِيْ لَنَا بِهَا جَمِيْعَ الْحَاجَاتِ وَتُطَهِّرُنَا بِهَا مِنْ جَمِيْعِ السَّيِّئَاتِ وَتَرْفَعُنَا بِهَا عِنْدَكَ أَعْلَى الدَّرَجَاتِ وَتُبَلِّغُنَا بِهَا أَقْصَى اْلغَايَاتِ مِنْ جَمِيْعِ الْخَيْرَاتِ فِى الْحَيَاةِ وَبَعْدَ الْمَمَاتِ
اَللَّهُمَّ يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ يَا ذَاالْجَلاَلِ وَاْلإِكْرَامِ
Kami memanjatkan kesyukuran kepada-Mu kerana mengizinkan kami untuk mengadakan dan berada dalam Majlis Anugerah Kecemerlangan dan Konvokesyen Pra Sekolah SK Seri Taman Kluang Barat, 2011
اَللَّهُمَّ يَا مُجِيْبَ الدَّعَوَاتِ وَقَاضِيَ الْحَاجَاتِ
Kami memohon kepada-Mu , agar Eangkau berkati majlis ini dengan limpahan rahman dan rahim-Mu, semoga segala usaha kami dalam menjayakan majlis ini mendapat keredhaan dan hidayah-Mu. Tidak juga lupa kepada para pendidik yang telah menyumbang khidmat dan menabur bakti mereka di sekolah yang bertuah ini .
اَللَّهُمَّ يَا قَوِيُّ يَا عَزِيْزُ يَا فَعَّالٌ لِّمَا يُرِيْدُ
Di saat ini juga kami rafa’kan tangan kehambaan mengharapkan ihsan-Mu agar Engkau teruskan dan lanjutkan kecemerlangan yang sudah kami capai samada dalam bidang akademik mahupun aspek pembinaan sahsiah insan dan seterusnya menganugerahkan kepada kami kecemerlangan demi kecemerlangan yang lebih bermakna dalam pelbagai bidang pada masa-masa akan datang.
اَللَّهُمَّ يَا مُهَيْمِنُ يَا رَقِيْبُ يَا ذَاالْجَلاَلِ وَاْلإِكْرَامِ
Jadikanlah pelajar-pelajar yang menerima hadiah dan sijil penghargaan pada hari ini sebagai pelajar-pelajar yang bersyukur di atas pengiktirafan ini. Jadikanlah mereka pelajar-pelajar yang akan sentiasa berusaha dengan gigih dan tekun untuk meningkatkan potensi dan prestasi mereka dalam bidang akademik mahupun ketrampilan peribadi yang luhur. Malah kami memohon daripada-Mu Ya Allah dengan penuh ketaakulan agar majlis anugerah ini akan menjadi sumber inspirasi kepada pelajar-pelajar lain supaya mereka sama-sama mengerah keringat dan menggembleng tenaga untuk mencapai kecemerlangan demi mengharumkan nama sekolah ini.
اللَّهُمَّ اجْعَلْ خَيْرَ أَعْمَارِنَا ءَاخِرُهُ وَخَيْرَ أَعْمَالِنَا خَوَاتِمُهُ وَخَيْرَ أيَّامِنَا يَوْمَ ألْقَاكَ فِيْهِ
اللَّهُمَّ اغْفِرْلَنَا ذُنُوْبَنَا وَلإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِالإِيْمَانِ
وَلاَ تَجْعَلْ فِيْ قـُلُوْبِنَا غِلاًّ لِلَّذِيْنَ ءَامَنُوْا رَبَّنَاإنَّكَ رَءُوْفٌ رَحِيْمٌ
اَللَّهُمَّ اجْعَلْ جَمْعَنَا هَذَا جَمْعًا مَرْحُوْمًا وَتَفَرُّقَنَا مِنْ بَعْدِهِ تَفَرُّقًا مَعْصُوْمًا
وَلاَ تَجْعَلْ فِيْنَا وَلاَ مَعَنَا شَقِيًّا وَلاَ مَطْرُوْدًا وَلاَ مَحْرُوْمًا.
Ya Allah, jadikanlah perhimpunan kami ini sebagai satu perhimpunan yang dirahmati dan perpisahan kami pula selepas ini sebagai satu perpisahan yang diberkati dan dilindungi. Dan janganlah Engkau jadikan pada diri kami ini, dan mereka yang bersama kami, kebinasaan, dan menyingkirkan kami dari memperolehi rahmat
رَبَّنَا اصْرِفْ عَنَّا عَذَابَ جَهَنَّمَ إِنَّ عَذَابَهَا كَانَ غَرَامَا إِنَّهَا سَاءَتْ مُسْتَقَرًّا وَمُقَامًا
رَبَّنَا لاَ تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِن لَّدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ
رَبَّنَا ءَاتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
وَأَدْخِلْنَا الْجَنَّةَ مَعَ اْلأَبْرَارِ. يَا عَزِيْزُ يَاغَفَّارُ يَارَبَّ الْعَالَمِيْنَ
وَصَلَّى الله ُ وَسَلَّمَ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى ءَالِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ وَالْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.
Posting Paling Popular Sepanjang 2012 : (3163 Pelawat)
aspirasidiri : Jadual Waktu Belajar Persendirian (Hari Bersekolah & Cuti Sekolah)
Murid yang mampu mengurus masa berpotensi untuk mendapat pencapaian yang baik dalam bidang Akademik. Sehari kehidupan seorang murid sekolah menempuh aktiviti pembelajaran yang berbeza. Di sekolah seorang murid tertakluk dengan jadual yang disediakan oleh pihak sekolah. Namun bagaimana pula ketika berada di rumah. Aktiviti hujung minggu perlu dikawal Jangan biarkan ianya berlalu begitu sahaja. Sedaikan jadual hujung minggu disesuaikan dengan aktiviti anjuran sekolah. Jika sekolah mengadakan kelas tambahan pada minggu ke-2 dan ke-4, masukkan aktiviti tersebut di dalam jadual agar kita dapat merancang aktiviti hujng minggu dengan aktiviti yang selaras dengan diri kita yang masih bergelar murid sekolah. Bagaimana pula ketika sekolah sedang bercuti ? Cuti sekolah yang tidak dirancang merugikan kita. Peluang tersebut perlu kita ambil dengan kita mengatur masa belajar mengikut keselesaan kita. Jangan gadaikan masa depan dengan hanya berseronok sahaja. Apa yang kita lakukan sekarang ini natijah yang kita perolehi adalah di masa depan. Sekarang kita bersusah payah belajar, Insya Allah hidup kita akan selesa pada masa depan dengan kerjaya yang kita ceburi. Seperkara lagi, apabila kita menyusun jadual jangan kita lupa masukkan sekali matapelajaran sekolah agama, dan aktiviti belajar agama ( mengaji quran). Ini adalah kerana pengabaian kepada aktiviti belajar agama akan menyebabkan persiapan hidup kita akan pincang. Belajar akademik sahaja sedangkan belajar agama terabai. Kata Imam Syafie :
“Barangsiapa yang menginginkan dunia, maka hendaknya menuntut ilmu dan barangsiapa yang menginginkan akhirat, maka hendaknya ia menuntut ilmu”.
Barangsiapa yang Menginginkan Dunia …
مَنْ أَرَادَ الدُّنْيَا فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ وَمَنْ أَرَادَ الآخِرَةَ فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ
Jadual Waktu Persendirian Cuti Sekolah
Jadual Waktu Sekolah
Jadual Waktu Persendirian Hari Bersekolah
Modul PRS
Modul RIMUP 2011
"Perhatian" Video Sejarah Kemerdikaan akan di UPLOAD di youtiube dalam masa terdekat. Akan dimaklumkan kemudian.
++klikdownload++Kertas Kerja RIMUP++klikdownload++
++klikdownload++Video RIMUP++klikdownload++
Modul BDK Utk Download
"Perkongsian" Perancangan UBK 2011 Untuk download
++klikdownload++Buku Pengurusan UBK 2011++klikdownload++
Konvensyen PERASA Peringkat Kebangsaan ke-8
++klikdownload++ PERASA++klikdownload++
Modul Kajian Tindakan
++klikdownload++Modul Kajian Tindakan++klikdownload++
Modul Program 5 Minit Benci Zina
Modul Kepimpinan 2011
++klikdownload++Modul Kepimpinan++klikdownload++
"Perkongsian" Dokumen Kelab UBK SR Utk Download
++klikdownload++Dokumen Pengurusan Kelab UBK++klikdownload++
e-Pengurusan UBK untuk download
Waman Jahada Fainnama Yujahidu Linafsih......
Saya admin aspirasidiri menyuarakan KECAMAN sekeras-kerasnya terhadap Laknatullah Rejim Zionis kerana melakukan serangan terhadap SAUDARA-saudara saya di ....GAZZA.... Jahanam, Jahanam Zionis, Hancur, Hancur Zionis. Ihzihum Wansurna Alaihim.... Saya berdoa agar rakyat Palastin tabah dan terus berjuang mempertahankan malahan menyerang keangkuhan Rejim Zionis... Menang atas Rejim Zionis atau Menang Sebagai SYAHID bertemu Allah... Yujahidu na Fi Sabilillah... Fayaktalun na wayuk talun ..... terus berjuang .... samada kamu membunuh atau di bunuh... .... Ya Allah Kami Tidak Dapat Berjuang Seperti Mereka..... tetapi kemi berdoa ... Wamautana, Bimauti Syuhada' ....seperti MEREKA.. Ijabata li dua'




























